Dependance of Phenolic and Flavonoid Content from Temulawak (Curcuma xanthoriza Roxb) on the Extraction Methods and Solvents
Ni^matul Izza*, Renasya Athira Firzana, Mei Lilis Suryani, Jocelyn Latreia Ronauli Sidauruk, Jorgi Korleone

Brawijaya University


Abstract

Temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb) adalah tumbuhan rhizoma Indonesia kaya senyawa bioaktif bermanfaat bagi kesehatan. Tradisional, temulawak digunakan sebagai obat dan jamu karena kemampuannya sebagai antioksidan, melawan radikal bebas. Radikal bebas muncul dari reaksi oksidasi, merusak lipid, protein, DNA, dan sel biologi, yang berpotensi toksik. Tubuh manusia memiliki antioksidan alami, namun terkadang tidak cukup untuk melindungi dari radikal bebas eksternal. Senyawa fenolik dalam temulawak memiliki aktivitas antioksidan tinggi dengan struktur cincin terkonjugasi yang efektif dalam menangkap radikal bebas seperti anion superoksida, oksigen tunggal, dan lipid peroksi radikal.

Proses ekstraksi diperlukan untuk mengambil senyawa bioaktif. Metode ekstraksi seperti microwave assisted extraction (MAE) dan ultrasound assisted extraction (UAE) efisien, walaupun MAE rentan terhadap degradasi zat termolabil. Sedangkan, UAE menawarkan efisiensi waktu dan perpindahan massa yang lebih baik dibandingkan dengan metode tradisional. Kemudian, pemilihan pelarut juga penting dalam proses ekstraksi. Akuades digunakan karena sifat polar dalam senyawa organik netral. Etanol 70% juga umum digunakan, terutama dalam ekstraksi flavonoid karena polaritasnya yang tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode ekstraksi dan pelarut terbaik untuk menghasilkan kadar fenol dan flavonoid yang optimal dari temulawak. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengoptimalkan kondisi ekstraksi, memberikan kontribusi penting dalam pemanfaatan potensi kesehatan temulawak bagi manusia.

Keywords: Temulawak, Ektraksi, Solvent

Topic: Food biotechnology and bioprocess engineering

ICGAB 2023 Conference | Conference Management System